Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia berkulit serupa, agama yang satu, tidak ada negara dan perbedaan. Perbedaan memang dikehendaki sang pemilik semesta. Perbedaan adalah hakekat penciptaan itu sendiri. Perbedaan itu indah!

Elena Bergaya Elsa

Elsa adalah salah satu karakter favoritnya.

Kristo

Suka sekali dengan Baymax

Wefie Berempat

Sayang gambarnya kurang naik

Momong Anak

Sepeda ini ecek2 tapi berjasa

Wefie

Ini sudah di-crop

Slider

Kaum Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel (KLMTD)

Istilah Kaum miskin, lemah, tersingkir dan difabel (KLMTD) mungkin tidak asing bagi kita. Tapi mungkin juga asing bagi banyak orang. Intinya adalah mereka yang 'tidak berdaya'. Tidak berdaya karena memang tidak punya daya, atau secara sistematis memang di-tidakberdayakan oleh orang-orang yang berdaya. Sebenarnya ketika membaca KLMTD, kita sudah bisa membayangkan siapa mereka. Tidak perlu ada definisi formal pun, kita sudah bisa mendefinisikan sendiri dan saya yakin bahwa definisi yang kita buat masing-masing tidaklah terlalu jauh berbeda.

Mungkin yang lebih penting adalah bagaimana kita-mudah-mudahan termasuk yang berdaya-untuk ikut ambil bagian secara kongkrit dalam memberdayakan mereka. Tindakan nyata untuk memberdayakan KLTMD sebenarnya tidak usah yang muluk-muluk dan tinggi-tinggi, sehingga kita masuk nominasi orang-orang yang hebat dan mendapatkan penghargaan. Jika kita secara bangga dan penuh rasa syukur menganggap diri kita berdaya, kita dapat melakukannya dari lingkungan kita sendiri. Kecuali, kebetulan kita adalah memang benar-benar orang yang BERDAYA, jadi mungkin tindakan kita bisa spektakuler.

Kita bisa memulainya dari pembantu kita misalnya, atau bawahan kita, atau tetangga kita, atau siapa saja yang sebenarnya tidak berdaya, tapi tidak pernah mau dikasihani.

Kita bisa mulai dengan selalu tersenyum dan menyapa orang-orang yang selama ini sering berjumpa dengan kita. Atau mensyukuri nikmat yang telah kita terima atau hal-hal kecil lain yang mungkin tidak penting, tetapi jika dilakukan dengan sepenuh hati akan memberikan makna yang mendalam.

Persepsi!!!!

Tentunya masih kita masih ingat tentang slogan BITCHAN yang populer beberapa waktu yang lalu. Slogan itu menjadi jargon simbol perlawanan terhadap Korupsi di Indonesia. Kata tersebut berasal dari Bibit dan Candra yang merupakan dua pimpinan KPK yang terkena kasus kriminalisasi. Upaya pembelaan dari rakyat sangatlah luar biasa. Group di Facebook untuk membela kedua orang itu sampai di atas 1 juta member!!! Suatu hal yang luar biasa.

Akan tetapi, akhir-akhir ini muncul isu baru, yaitu bahwa ternyata Candra Hamzah tidaklah bersih-bersih amat. Isu yang berasal dari nyanyian Nazaruddin tersebut menyatakan bahwa Candra Hamzah (dan juga beberapa pimpinan KPK yang lain) tidaklah sebersih yang dikira orang. Apakah itu betul? Saya sendiri tidak tahu.

Lepas dari benar atau tidaknya nyanyian Nazaruddin tentang CH, hal yang menarik adalah bahwa persepsi masyarakat telah terbentuk dengan baik. Ketika ada isu tentang kriminalisasi KPK, maka persepsi masyarakat menyatakan bahwa KPK adalah lembaga superbody yang bersih. Setelah adanya itu tentang nyanyian Nazaruddin, maka timbul persepsi baru bahwa pimpinan KPK tidaklah bersih seperti yang dipersepsikan oleh banyak orang selama ini.

Katanya, nyanyian Nazaruddin bukanlah merupakan fakta hukum. Akan tetapi, bagaimanapun juga telah berhasil membentuk persepsi baru tentang pimpinan KPK. Persepsi memang bukanlah kebenaran, dan, fakta hukum juga bukanlah kebenaran yang mutlak. Persepsi memang dapat dibentuk dengan berbagai cara, misalnya pencitraan. Banyak produk yang sebenarnya biasa-biasa saja, dapat menjadi market leader pasar karena keberhasilan produsen dalam membentuk persepsi tentang produk tersebut.

Jadi dalam hal ini, Nazaruddin adalah berhasil dalam membentuk perseps!!!

Perlu Orang Besar untuk Menghormati Orang Kecil

Judul di atas, lagi-lagi, merupakan kutipan dari Bapak Mario Teguh. Cukup unik ungkapan itu. Memang sangat mudah bagi kita untuk menghormati orang besar, misalnya orang kaya, pejabat atau orang yang terpandang. Dengan mudah dan suka rela kita akan memberikan hormat, dalam arti menyenangkan orang tersebut.

Akan tetapi, bisakah kita dengan suka rela dan sepenuh hati menghormati orang kecil? Orang miskin misalnya, atau secara lebih luas lagi, mungkin bawahan kita, pembantu kita, petugas parkir atau yang lebih mendalam, orang-orang yang meskipun kita tidak pernah berjumpa, tetapi merupakan tanggung jawab dari amanah kita.

Jika kebetulan kita seorang pemimpin, dalam arti apa pun itu, maka kita mengemban amanah yang besar bagi kesejahteraan orang yang kita pimpin. Kacaunya negeri ini, sangat mungkin dikarenakan orang-orang yang diberi amanah tidak menghormati orang kecil, dalam hal ini adalah rakyat jelata.

Yang dimaksud 'orang besar' tentunya bukan orang yang secara fisik badannya besar. Akan tetapi kebesaran hati untuk memangku sebuah jabatan, bukannya menduduki jabatan. Jika kita merasa menduduki sebuah jabatan, maka kita akan merasa enak dan lupa akan tanggung jawab kita. Akan tetapi jika kita menganggapnya sebagai memangku jabatan, tentunya tidak seenak yang dibayangkan. Para pemimpin negeri ini mungkin semuanya merasa menduduki jabatan sehingga lupa akan tanggung jawabnya dan merasa keenakan. Juga, mereka tidak mau berbesar hati untuk menghormati orang kecil (baca rakyat) yang menjadi tanggung jawab mereka.

Kejujuran tidak perlu seribu kata

Judul artikel ini sebenarnya kutipan dari Bapak Mario Teguh. Mungkin tidak terlalu lengkap kutipannya atau mungkin juga kurang tepat. Tapi itulah persepsi saya. Ketika kita berbicara sesuatu yang jujur dan dari lubuk hati yang paling dalam, maka kita tidak perlu mengeluarkan ribuan kata lagi untuk menjelaskan bahwa kita berkata jujur.

Hal ini berbeda dengan suatu ketidakjujuran. Ketidakjujuran akan memerlukan ribuan kata agar fakta ketidakjujuran itu tertutupi dan seolah-olah menjadi sebuah kejujuran. Kita mungkin setiap hari melihat kejadian-kejadian berkaitan dengan kejujuran, atau ketidakjujuran. Saking banyaknya kejadian yang kita lihat terutama dari TV atau media lain, sehingga kadang-kadang kita juga jadi bingung, ini sebenarnya siapa yang jujur, siapa yang tidak jujur, atau bahkan semuanya tidak jujur?

Mungkin saja sebuah ketidakjujuran dapat beralihrupa menjadi sebuah kejujuran dengan teknik pencitraan. Biayanya juga relatif mahal, milyaran atau bahkan trillyunan rupiah. Tapi apakah alih rupa tersebut bersifat menentramkan, atau mensejahterakan? Sepertinya tidak. Kejujuran yang berasal dari sebuah penjelmaan ketidakjujuran yang disertai dengan dana milyaran rupiah hanya akan menciptakan kesengsaraan. Dan celakanya, untuk menutupi kesengsaraan tersebut, keluarlah ketidakjujuran lain, yang tentu saja, harus disertai dengan dana milyaran rupiah lagi untuk mengalihrupakan menjadi sebuah kejujuran!

Memang akan seperti lingkaran setan. Satu ketidakjujuran, akan menciptakan ketidakjujuran lain untuk menutupi ketidakjujuran itu

NASDEM = NASI ADEM

Pada awalnya saya kira, NASDEM adalah kependekan dari NASIONAL DEMOKRAT. Rupa-rupanya saya salah, karena kepanjangannya ternyata adalah NASI ADEM (Adem = Dingin). Ya tentu saja tidak enak. Jauh lebih enak nasi panas, atau nasi goreng (NASGOR). Pantas saja banyak tokoh yang keluar dari keanggotaan NASDEM, padahal mereka merupakan tokoh kunci dan dikenal secara luas di masyarakat, misalnya Sri Sultah HB X atau Rustriningsih (Wagub Jawa Tengah).

Jargon yang diusung NASDEM adalah RESTORASI. Istilah yang populer dan hampir identik dengan perubahan ke arah positif, seperti yang terjadi di Jepang, katanya di sana ada istilah RESTORASI MEIJI. Mungkin jargon NASDEM harus diubah menjadi REPLIKASI saja. Karena memang benar-benar replikasi dari berbagai fenomena yang terjadi. Biasanya begini, mau jadi ketua, eh.. gagal. Lalu membentuk partai baru. Tapi ya mlipir-mlipir atau mengendap-endap dulu. Bikin organisasi dulu, baru partai.

Replikasi yang lain adalah, menguasai media. Ini sudah dilakukan oleh banyak kelompok atau pribadi lain. Prof. Cipta Lesmana mengakui bahwa kekuatan media sangatlah besar. Ya....tetangga sebelah juga sudah melakukan hal ini, yaitu menguasai media masa, cuma anaknya yang disuruh menguasai, bapaknya tinggal memberikan perintah!

Ujung-ujungnya mungkin juga jelas. Jika makan nasi panas, atau nasi goreng tentulah membuat kita bersemangat, apalagi yang pedas...wuih..... Lah kalau nasi dingin, ya ujungnya MASUK ANGIN!!!

Ridle juga mengatakan, PSSI harus punya etika. Benar atau tidak salah itu, yang jelas etika mungkin barang langka di republik ini. Mungkin di masa mendatang, DPR akan merancang Undang-undang yang menyatakan bahwa ETIKA adalah melanggar HUKUM!!!

AMIT AMIT.....

Mengubah Favicon pada Blog

Istilah Favicon mungkin tidak asing bagi para blogger sejati, tetapi mungkin masih asing bagi pemula termasuk saya :) Awalnya ketika membuat menu design (rancangan) di bagian kiri atas ada menu baru 'Favicon'. Kurang lebih artinya adalah gambar kecil di sebelah kiri browser ketika kita membuka suatu alamat situs. Silahkan lihat di kiri atas, pada di sebelah kiri alamat blog ini adalah simbol atau gambar kecil yang merupakan gambar khas dari blogger.

Nah ternyata itu bisa diganti. Cara menggantinya, dulu cukup rumit bagi yang awam html, karena harus menambahkan script tertentu pada menu Edit Html. Akan tetapi dengan adanya menu baru dari blogger, hal itu menjadi sangat mudah dilakukan. Tinggal klik edit saja, maka akan muncul 'Upload custom favicon'. Tinggal Anda upload saja gambar yang akan digunakan dan ukurannya relatif kecil yaitu sekitar 16 x 16 saja. 
Selesai.

Lalu tunggu saja dan hasilnya kurang lebih akan seperti di sini.

Lihat saja di sebelah kiri alamat web pada browser sudah sesuai dengan gambar yang kita inginkan.

Mengapa Harus Sombong?

Tahukah Anda, bahwa Anda hanyalah satu dari sekitar 6,5 milliar penduduk dunia? Jadi mengapa harus sombong? Apakah karena Anda hebat? Boleh-boleh saja.


 Tahukah Anda, bahwa bumi hanyalah satu dari delapan buah planet yang mengitari matahari. Bahkan bumi bukanlah planet yang terbesar atau istimewa bagi matahari. Matahari tidak akan risau dengan musnahnya bumi. Planet terbesar adalah planet Yupiter yang besarnya sekitar 1000 kali bumi.
Jika kurang, tahukah Anda bahwa matahari hanyalah satu dari sekitar 200 milyar bintang yang terdapat dalam satu gugus galaksi bernama galaksi bima sakti atau milky way. Matahari bukanlah bintang yang penting dalam galaksi bimasakti bahkan terletak di pinggirannya. Pusat galaksi bima sakti berukuran sekitar 1000 kali matahari bahkan lebih. Galaksi bima sakti tetap eksis tanpa adanya matahari

Dan tahukah Anda, bahwa galaksi bima sakti hanyalah satu dari sekitar 100 milliar galaksi yang telah diidentifikasikan, di mana masing-masing galaksi terdiri dari lebih 100 milliar bintang. Musnahnya galaksi bima sakti hanya memberikan efek kecil bagi tata surya ciptaan Sang Khalik.

Jadi betapa kecilnya kita di semesta ini....masih berani sombong?